Jumat, 18 Januari 2013

Buku "Salam Tiga Angka Enam" by Addy Gembel Forgotten




“gw hanya minta sekeping surgayang selama ini kamu miliki. hanyasekeping saja. diantara jutaan keping yang sudah lo miliki hinggasaat ini. penebusannya adalah lo boleh miliki gwa hingga waktu yang tak terbatas. walaupun untuk bisa seperti itu semua tabungan keberanian gwa habis gwa gadaikan didepan lo.”
sepenggal kalimat ruh pada raga.
———————————
Buku ini merupakan cetakan ke dua Kumpulan Cerita Pendek AddyGembel Tiga Angka Enam. Sebelumnya, cetakan pertama terbit tanggal 14 Agustus 2005 oleh Minor Books. Dengan begitu tingginya permintaan khalayak terhadap buku ini, Minor Books, bekerja sama dengan Omuniuum dan Balatin Pratama, menerbitkan kembali buku ini. Ada perubahan desain sampul di cetakan ke dua ini. Grafis sampul cetakan ke dua digarap oleh Danive dan diset ulang oleh Kimung. Di cetakan pertama Asmo yang mengarap desain sampul.
Cerpen-cerpen yang ada dalam buku ini merupakan hulu sekaligusmuara lirik-lirik lagu yang diciptakan Addy Gembel bersama Forgotten, band death metalnya. Katakanlah ini merupakan lahan eksplorasi Addy Gembel dalam menggambarkan detil yang tidak dapat digoreskan lewat media musik. Atau, inilah proses kreatif Addy Gembel yang begitu menggurita dalam mencipta musikdan sastra. Apapun itu, cerita-cerita pendek Addy Gembel dan musik Forgotten adalah dua sisi kepeng uang yang senantiasa saling melengkapi. Ilustrasi dan soundtracknya. Coba saja dengerin Forgotten!
Cerpen Modernisme…Itulah Ibuku! pernah dimuat dalam antologi cerpen dan puisi Perlahan Dalam yang diterbitkan Hitheroad Publishing tahun 2004. Modernisme… ngotot kami rilis ulang dalam buku ini dengan harapan akan menjadi mata rantaipenghubung antar karya-karya Addy Gembel yang dulu dan sekarang. Karena itu, terima kasih kepada Hitheroad untuk Modernisme…nya, terutama kepada Yusandi yang telah membantu proses membaca kembali seluruh cerita pendek yang termuat dalam Tiga Angka Enam ini. Juga kepada Mamang Yudo yang telah menggoreskan ilustrasi-ilustrasinya yang polll!!!
Akhirnya, membaca buku ini tak bisa sekali saja. Lepas dari cara penuturan Addy Gembel yang memikat dalam cerita-cerita pendeknya, butuh pemaknaan berkali-kali atas apa yang coba diungkapkan Addy Gembel lewat cerita-ceritanya. Ini mungkin ilustrasi dari sarkasme Forgotten dalam mengungkapkan fakta-fakta yang Addy Gembel tangkap melalui ketajaman pena dan pemikirannya. Semoga ini menjadi pemicu bagi kita untuk lebih rendah hati dan belajar terus menerus bersama begitu banyak perbedaan berserak sekitar kita.
Yal Rule! Cheers!Read safely!
Minor Books, 9 April 2009
Addy Gembel
Addy Gembel lahir di Bandung pada 23 Oktober 1977. Nama aslinya Addy Handy Mohamad Hamdan. Addy—atau Gembel, begitulah ia akrab disapa—tumbuh dan besar di komunitasmusik metal Ujungberung Rebels. Di jalanan pojok tertimur Kota Bandung inilah Addy mengasah kepekaannya dalam memandang dan menyikapi pelbagai kondisi sosial budaya yang merebak baik dalam skup lokal maupun global. Bersama band cadasnya, Forgotten, Addy dengan garang dan tanpa tedeng aling-aling menuding dan menggugat berbagai sistem kemapanan, baik yang kasat mata dan terasa maupun yang abstrak memabukkan. Sejak 1999, Addy dan Forgotten telah merilis empat buah album, yaitu Future Syndrome, Tuhan Telah Mati, Obsesi Mati, dan Tiga Angka Enam.
Tiga buah cerpennya–”Republik Bintang Tengkorak”,” Modenisme…Itulah Ibuku!”, dan “Kegelapan, Kesunyian itu Bernyawa” pertama kali diterbitkan Hitheroad Publishing dalam antologi cerpen dan puisi Perlahan Dalam (2004) bersama empat penulis Bandung lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar